Malikat Penjaga Ujung Tebing

Hidup menjadi lebih indah ketika bisa menolong banyak orang, memberikan alternatif, menjadi teman atau menjadi sahabat bagi orang-orang yang membutuhkan.


Watsons Bay sebanarnya adalah pantai yang indah, adanya tebing yang menjulang sampai 260 meter, air laut berwarna biru tua dan kondisi pantai yang bersih menjadikan pantai ini menjadi salah satu tempat wisata terkemuka di Australia. Namun selain menjadi tempat faforit untuk menikmati keindahan alam, Watsons Bay juga dikenal sebagai pantai faforit untuk mengakhiri hidup (bunuh diri) yakni dengan melompat, mehempaskan tubuh mereka kedasar tebing terjal. Meskipun pemerintah Australia sudah membangun pagar, menempatkan kamera cctv dan meninggikan tebing, tetap saja tidak mengurangi jumlah orang yang melakukan tindakan bodoh ini. Diberitakan dalam satu tahun rata rata 50 orang mengakhiri hidupnya ditempat ini.

Beruntunglah pemerintah Australia mempunyai Don Ritchie, seorang lelaki tua pensiunan salesman. Paling tidak adanya Don ditempat itu, bisa mengurangi jumlah orang yang ingin melakukan tindakan buruk tersebut. Oleh pemerintah dan masyarakat setempat, warga South Wales ini dijuluki “Malikat Penjaga Ujung Tebing”.

Bagi Don hidup menjadi lebih indah ketika bisa menolong banyak orang, memberikan alternatif, menjadi teman atau menjadi sahabat bagi orang-orang yang membutuhkan. “saya hanya menawarkan alternatif selain bunuh diri, saya ingin mejadi sahabat mereka, menawarkan kebaikan atau harapan untuk membantu mereka menjalani hidupnya,” ujar pria 84 tahun ini.

Adalah Michele, gadis belia yang menginginkan hidupnya berakhir. Karena penyakit yang dideritanya, Michele tak mampu lagi menahan derita yang setiap saat dirasakannya. Michele adalah salah satu yang telah diselamatkan oleh Don Ritchie. Saat itu Michele berada diujung tebing dan berniat ingin melompat, namun untunglah, saat itu Don Ritchi melihatnya dari balik jendela. Bergegas Don menghampiri gadis itu dan menyapanya dengan lembut.

“Maukah anda menemani saya?” sapa Don.

Sapaan itu rupanya membuat Michele terhenyak dan terpaku atas kehadiran lelaki tua itu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut gadis manis itu. Sadar akan hal itu, Don Ritchi lebih mendekat dan mengulangi sapaannya.

“Maukah anda menemani saya?” sapa Don berikutnya

Gadis itu masih tetap diam, terpaku akan kehadiran Don. Dan Don Ritchie pun lebih mendekat dan menyapa gadis itu kembali.

“Saya sedang mencari teman, maukah anda menjadi teman saya?” sapa Don kemudian.

Ketegangan gadis itu pun mulai cair dan membalas sapaan Don.

“Mengapa anda kesini?”

“Saya sedang mencari teman, maukah anda menjadi teman saya?” Don mengulang kata-katanya.

“Saya tidak ingin anda menggangu saya!” ucap Michele.

“Saya juga tidak ingin menjadi teman anda,” ucap Michele kemudian.

Don tetap tenang ketika gadis ini menolak keinginannya. Kemudian Don pun terus membujuk gadis itu kembali.

“Saya tahu kenginan anda kesini, bukan maksud saya untuk menggangu anda, saya cuma ingin menjadi teman anda, saya hanya ingin ngobrol dengan anda, siapa tahu saya bisa mambantu anda,” bujuk Don dengan lembut.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu dan Don pun memberikan ruang kepada Michele untuk berfikir tentang ajakannya.

“Sungguh anda ingin menjadi teman dan membantu saya?” ucap Michele dengan suara lemah.

“Saya bersungguh-sungguh ingin menjadi teman anda,” Don berusaha meyakinkan Michele.

Apa yang dilakukan Don sedikit demi sedikit telah melumerkan hati Michele, saat itu Don menjadi semakin yakin bahwa dia bisa menyelamatkan gadis itu dari keinginannya untuk mengakhiri hidup.

Don mulai mendekat, lebih mendekat dan segera memeluk Michele dengan lembut setelah sampai dihadapan gadis itu.

Dipelukan Don, Michele menangis.

“Maukah kau menjadi teman saya?” bisik Don.

Dan Michele pun mengangguk tanda setuju.

Akhirnya diajaklah Michele ke rumah yang tidak jauh dari tempat itu, rumah tempat tinggal Don Ritchie disisi seberang jalan tebing pantai itu. Diberanda rumah, mereka berbicara dengan santai dan ditemani secangkir teh untuk menghangatkan suasana. Tanpa disadari waktu pun berlalu, obrolan santai itupun akhirnya dihiasi dengan senyuman dan sedikit gelak tawa diantara mereka. Keinginan Michele untuk mengakhiri hidup akhirnya pudar dan berganti dengan senyum manis dihati gadis belia itu.

Dari obrolan itu, akhirnya Don mengetahui masalah yang dihadapi gadis itu. Kesibukan orang tua dan orang-orang terdekatnya membuat Michele merasa sendiri didunia ini menanggung derita kesehatan yang dialaminya. Dan saat ini, Michele telah memiliki seorang teman, seorang yang lemah lembut, seorang yang bersedia menemani hari-harinya, seorang yang berhati “malaikat”. Don Ritchie telah benar-benar menyelamatkan hidupnya.

***

“Saya tidak akan berhenti untuk menolong mereka dan saya tidak bisa membiarkan mereka terjun bebas sedangkan saya cuma melihatnya dari balik jendela,” kata Don. Sampai saat ini tak terasa Don Ritchie telah menyelamatkan kurang lebih 400 orang yang ingin mengakhiri hidup disini, ditempat dimana “Malaikat Penjaga Ujung Tebing” berada.

Catatan :

Teman apa yang dilakukan Don Ritchie sungguh luar biasa. Dimasa tua, dia menabur benih kebaikan, ketulusan, perhatian dan kelembutan kepada sesama, mau menjadi tempat dan sahabat bagi mereka yang telah sangat-sangat terpuruk. Sungguh benar apa yang dikatakannya bahwa hidup menjadi lebih indah ketika bisa menolong banyak orang, memberikan alternatif, menjadi teman atau menjadi sahabat bagi orang-orang yang membutuhkan. Kita patut belajar kepada Don Ritchie, lelaki tua penjaga tebing itu.

Artikel Terkait :

3 responses to this post.

  1. […] Malaikat Penjaga Ujung Tebing […]

    Balas

  2. […] Malaikat Penjaga Ujung Tebing […]

    Balas

  3. […] Malaikat Penjaga Ujung Tebing […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: