Apa Kamu Bisa?

Lakukan apa yang ingin anda lakukan. Sekecil apapun itu, serendah apapun diri anda, jika kemauan itu dapat merubah hidup anda menjadi lebih baik, Lakukanlah!

Layaknya remaja pada umumnya, saat itu Okky dengan semangat mengacungkan jari, menawarkan dirinya untuk mengikuti audisi majalah sekolah yang diadakan saat itu dan dialah orang pertama yang mengajukan diri menjadi calon anggota majalah sekolah itu.

Namun tak selang beberapa lama, Guru Bahasa Indonesianya menunda pencatatan dirinya sebagai calon anggota majalah sekolah itu. ‘Calon Peserta Adalah Siswa Rangking 1 dan 2, atau Memiliki Danem Tinggi’ adalah syarat eksklusif yang harus dimiliki calon anggota. Terang saja, syarat yang baru diketehui disaat berikutnya itu membuat ia terkejut dan menahan malu, karena kenyataan, dia sama sekali tidak masuk kategori itu.

Guru itu lantas mencari kandidat baru, dengan alasan, dia adalah cadangan jika tidak ada lagi calon dikelas itu. Penolakan halus itu membuat dirinya terhina, namun disaat yang sama, penolakan itu juga menjadi cambuk baginya untuk membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik. Lalu karena tidak satupun temannya yang mengajukan diri, akhirnya ia yang terpilih bersama seorang siswi dengan nilai tinggi dari kelas lain. “Okky, apa kamu bisa?” tanya guru itu didepan 50 siswa. Dengan santai dia jawab, “Orang tua saya tidak pernah meragukan saya saat saya belajar jalan, jadi kenapa saya harus ragu?” jawabnya tegas.

‘Pertempuran’ pun dimulai, satu tahun pertama, saat itu masih anggota junior, dia berhasil mengumpulkan artikel, jauh sebelum tanggal deadline. Satu tahun kedua, dia berhasil dipilih menjadi ketua baru, atau bahasa keren-nya, Pimpinan Redaksi. Saat itu sejumlah perubahan dia lakukan, mulai penggunaan bahasa baku, rekrutmen yang tidak lagi mementingkan nilai, pengakuan kemampuan personal, hingga look majalah yang baru. Dia berhasil melampaui siswi dengan nilai terbaik itu.

Prestasi Jurnalis SMA Terbaik, berhasil dia raih, dan kepercayaan teman-teman, guru, kepala sekolah, hingga guru pematah semangat tersebut, beralih pada dia, siswa bodoh dan bahan olokan.

Lepas dari pendidikan Putih Abu-abu tersebut, selang beberapa tahun tentunya, dia memutuskan diri untuk menerus hobinya sebagai Jurnalis. Dengan semangat olokan yang dulu ia terima, dia berhasil menjadi Koordinator Liputan, Redaktur, hingga Humas dalam 2 tahun masa kerjanya.

Teman, bukan prestasinya yang menjadi inti tulisan ini, tapi keberhasilan menaklukkan momok yang pernah ia terima adalah sesuatu yang luar biasa. Guru pematah semangat itu sekarang berbalik malu saat melihat dia di reuni sekolah. Dan tanpa Beliau sadari, Beliau sudah berubah menjadi Guru Pembakar Semangat. Saat reuni itu, dia memeluk Beliau, dan mengatakan, “Terima kasih atas ejekan ibu dulu.”

Teman, hari ini dia megajak anda untuk melakukan apa yang ingin anda lakukan. Sekecil apapun itu, serendah apapun diri anda, jika kemauan itu dapat merubah hidup anda menjadi lebih baik, Lakukanlah!

Jadikan ejekan, hinaan, dan hambatan sebagai batu lompatan. Niat anda lebih berharga dari sebuah angka akademis, prestasi nilai, taraf hidup, kekurangan fisik, minoritas suku, dan apapun yang membuat anda berbeda dengan lingkungan anda.

Hidup kita mahal, karena pembuatnya adalah Maestro terhebat, Ilmuan dari segala ilmuan, dan tidak ada yang boleh merendahkan anda didunia ini, karena Tuhan menciptakan anda dengan Sempurna.

Artikel Terkait :

2 responses to this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: