Anakku oh Anakku

Ketika anugerah terbesar itu datang kepada kita, apakah pantas kita samakan dengan karir dan segepok uang recehan? Itu sama saja kita menempatkan mereka bersama karir dan segepok uang itu di atas ring tinju, sedangkan kita berlaku sebagai wasitnya. Apakah pantas?


Rona kecantikan Diana saat itu masih terlihat cantik meskipun terbalut dengan kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam. Kehilangan anak satu-satunya yang Dia miliki, menjadikan Dia terhempas kedalam keterpurukan perasaan. Tomi, harus meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Anak seumur jagung itu terbujur kaku dipembaringan dengan terbungkus kain kafan.

”Ibu…mandiin Tomi sekali ini saja…..besok Tomi tidak minta lagi…….”. Suara itu terkenang, menggema setiap saat, suara yang membuat hatinya tercabik, hancur berkeping-keping. Suara yang membuat ia dirundung penyesalan yang dalam. “Tuhan…kembalikan anakku” bisik hatinya pilu, memelas, memohon Tuhan untuk mengembalikan sesuatu yang tidak mungkin kembali. “Tuhan….kembalikan anakku”. Keadaan hatinya kian hampa, terluka dan luka itu terasa sangat dalam. Sebuah kehilangan terbesar dalam hidupnya. Tomi baginya adalah harta yang tidak ternilai dengan apapun. Namun tanpa sengaja Tomi terabaikan dan berakhir tanpa Diana disisinya. Karir telah membutakan mata Diana.

Minggu 18 Agustus 2009 jam 4;30 Diana terbangun dan bergegas untuk mempersiapkan diri untuk menunaikan tugas yang diembannya, meninjau proyek selama tiga hari di Kota Batam. Dipagi itu Diana mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek. ”Ibuuuu….mandiin Tomi Bu….”. Tiba-tiba Tomi datang dan meminta Ibunya untuk dimandikan. Diana saat itu sibuk mempersiapkan diri, tentu saja menolak keinginan Tomi. Apalagi waktu sudah semakin mepet untuknya. Namun Tomi terus mendesak dan mendesak Diana lagi, meminta permintaan yang sama. ”Ibu…mandiin Tomi sekali ini saja…..besok Tomi tidak minta lagi…….”.

Raut wajah Diana agak memerah, kesal karena terus didesak Tomi. Tomi terus meminta. Diana tidak dapat berkilah. Akhirnya bentakan kecil mendarat ditelinga Tomi. ”Tomi, jangan merengek gitu, Ibu nanti ketinggalan pesawat. Tau!?”. Saat itu Diana belum menyadari bahwa kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkannya kepada Tomi. Kata-kata dengan aroma bentakan.

Saat itu Tomi merasa pilu, Ibu yang selalu ditunggu kedatangannya, ditunggu kasih sayangnya, Ibu yang selalu ditunggu belas kasihnya, namun kala itu, Tomi harus menelan kekecewaan yang berat, apa yang diinginkannya diabaikan oleh Ibunya sendiri. Walau itu untuk terakhir kalinya, tetap terabaikan.

Tepat pk. 06.30, Diana segera meluncur menuju bandara. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pesawat akan berangkat jam 7.15 pagi. Segera Diana memanggil Mbok Tini untuk memandikan Tomi. Air mata Tomi mengiringi kepergian Diana.

Rabu, tanggal 21 Agustus 2009 adalah hari terakhir Diana menjalani tugasnya di Kota Batam. Namun saat itu malah menjadi hari yang paling sibuk untuknya. Jadwal meeting  dan jamuan makan malam yang harusnya diawal kedatangannya, harus tetunda lantaran kesibukan para pejabat setempat dengan urusan kantornya masing-masing. Agar tidak terganggu, Diana mematikan HPnya dari pagi hingga larut malam. Namun sayang, saat itu Diana telah menutup diri untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan anaknya

Hari Rabu itu juga, Mbok Tini sangat ketakutan, badan Tomi tiba-tiba panas, menggigil. Dia benar-benar merasa sendiri menghadapi kondisi Tomi. Dia berusaha telfon Diana namun tidak bisa, telfon Pak Darman –suami Diana- yang saat itu berada di Istambul Turki juga susah.

Hari itu jam 16.30, kondisi Tomi semakin parah, bergegas Mbok Tini mencoba menghubungi mejikannya kembali, hanya Pak Darman yang bisa dihubungi. Pak Darman segera meminta Mbok Tini agar mempersiapkan diri untuk segera membawa Tomi ke Rumah Sakit. Kemudian tak berselang lama, mobil dinas departemen luar negeri datang menjemput. Rupanya Pak Darman menghubungi kantor, meminta pertolongan rekannya untuk membawa Tomi kerumah sakit.

Perasaan Mbok Tini sedikit lega, namun itu hanya sementara, selang 3 jam, hidung Tomi mengeluarkan darah. Keadaannya semakin kacau, nafasnya sesak, detak jantungnya tidak beraturan. yah..saat itu Tomi berada dalam ambang kematian.

Kamis dini hari  jam 02.06, Dokter meyatakan Tomi telah meninggal dunia. Tomi menghembuskan nafas terakhir, nafas yang mengiringi ruhnya terbang menemui Sang Kholiq. Disaat Dia sendiri, disaat Ayah Ibunya sibuk, Dia berjuang melawan rasa sakit. Dia berjuang melawan kematian. Dia berjuang dalam kesendirian. ”Selamat tinggal Ibu…!!!”

Hikmah :

Teman, anak adalah hata yang paling berharga dalam kehidupan kita. Mereka adalah amanah yang diberikan Tuhan kepada kita. Mereka patut mendapat perhatian dan pendidikan yang layak.

Ketika anugerah terbesar itu datang kepada kita, apakah pantas kita samakan dengan karir dan segepok uang recehan? Itu sama saja kita menempatkan mereka bersama karir dan segepok uang itu di atas ring tinju, sedangkan kita berlaku sebagai wasitnya. Apakah pantas?

Banyak diantara kita yang hanya bertujuan untuk anak ketika bekerja, namun dalam prakteknya, apakah kita telah menempatkan mereka diatas karir kita? Hanya masing-masing diri kitalah yang bisa menjawabnya.

 

Artikel Terkait :

  • Hambatan dan Hikmah
  • Pelajaran Sang Kakek
  • Apa Kamu Bisa?
  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: